Program Pemberdayaan Remaja Berbasis Aset Lokal di Dusun Masaran Lepek, Desa Sumedangan
Program Pemberdayaan Remaja Berbasis Aset Lokal di Dusun Masaran Lepek, Desa Sumedangan
Pendahuluan
Desa Sumedangan merupakan salah satu desa yang terletak di daerah Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan. Adapun jika dilihat dari segi wilayah, desa ini terbagi menjadi lima dusun yaitu, Dusun Barat, Dusun Tengah, Dusun Bendengan Parseh, Dusun Masaran Lepek dan Dusun Oberan Rabah. Setiap Dusun memiliki kepala dusun atau biasa disebut para pamong yang memiliki peran penting dalam menghubungkan atau sebagai perantara antara pemerintah desa dengan masyarakatnya. Jika dilihat dari kondisi geografisnya, daerah ini terdiri dari areal sungai dan persawahan. Di sisi lain daerah desa ini tergolong daerah dataran rendah yang rawan akan bencana banjir, diperkirakan tinggi arus banjir setara dengan ukuran orang dewasa. Hal ini disebabkan selain daerahnya tergolong dataran rendah, ini juga disebabkan karena daerahnya sebagian besar terdapat aliran sungai yang semakin meningkatkan risiko terjadinya banjir. Pencegahan yang telah dilakukan pemerintah desa ialah membuat manajemen evakuasi yang baik dan tepat seperti memasang plang-plang sebagai jalur evakuasi masyarakat ke tempat yang aman dan terhindar dari bencana banjir.
Diketahui bahwa luas wilayah desa ini ialah sekitar 127,70 ha, sementara jarak dari desa ini ke kota ialah sekitar 17 km dengan total jumlah penduduk mencapai 3.203 jiwa. Adapun batas-batas yang dimiliki desa Sumedangan ini sebagai berikut:
Batas sebelah selatan : Desa durbuk
Batas sebelah barat : Kelurahan Kangenan
Batas sebelah utara : Desa Lemper dan Desa Murtajih
Batas sebelah timur : Desa Pademawu Barat
Dusun Masaran Lepek, Desa Sumedangan, dikenal sebagai salah satu sentra gerabah tradisional di wilayahnya. Kerajinan ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat setempat. Gerabah yang dihasilkan umumnya berupa ulekan dari tanah liat khusus, digunakan untuk menghaluskan bumbu masakan. Proses pembuatannya masih sepenuhnya manual, mengandalkan tenaga, perasaan, dan kesabaran penuh dari para pengrajin. Setiap tahap, mulai dari pembentukan, penjemuran, hingga pembakaran, dilakukan dengan teknik yang diwariskan turun-temurun.
Namun, di tengah perkembangan zaman, minat generasi muda untuk meneruskan tradisi ini semakin menurun. Banyak di antara mereka yang lebih memilih bekerja di sektor lain, seperti menjadi pegawai atau buruh industri, karena dianggap lebih menjanjikan secara finansial dan lebih modern. Akibatnya, jumlah pengrajin gerabah semakin berkurang, dan warisan keterampilan ini terancam punah.
Metode Asset Based Community Development (ABCD) menawarkan cara pandang yang berbeda untuk mengatasi masalah ini. Alih-alih berfokus pada kekurangan atau keterbatasan masyarakat, ABCD mengajak untuk melihat dan memanfaatkan potensi yang sudah ada. Dalam hal ini, gerabah bukan hanya aset budaya, tetapi juga peluang ekonomi jika dikelola dan dipasarkan dengan inovatif, khususnya dengan melibatkan generasi muda.
Identifikasi Aset Lokal
Pendekatan ABCD dimulai dengan memetakan aset yang dimiliki oleh Dusun Masaran Lepek. Beberapa aset penting yang teridentifikasi adalah:
1. Aset Individu
Warga senior memiliki keterampilan tinggi dalam membuat gerabah, mulai dari pemilihan tanah liat, teknik pembentukan, hingga pengendalian suhu saat pembakaran. Pengetahuan ini sangat berharga untuk diturunkan kepada generasi muda.
2. Aset Fisik
Dusun ini memiliki peralatan tradisional yang masih berfungsi baik, seperti meja putar manual, cetakan sederhana, dan tungku pembakaran. Semua ini merupakan modal awal yang tidak memerlukan biaya besar untuk memulai produksi.
3. Aset Sosial
Komunitas pengrajin di dusun ini memiliki ikatan sosial yang kuat, saling membantu dalam proses produksi, terutama pada tahap pembakaran yang membutuhkan kerja sama banyak orang.
4. Aset Budaya
Gerabah Masaran Lepek memiliki nilai historis yang melekat kuat dengan identitas desa. Banyak warga yang bangga akan keterampilan ini, meskipun belum semua generasi muda ikut melestarikannya.
5. Aset Ekonomi
Produk gerabah memiliki pasar potensial, baik di tingkat lokal maupun di luar daerah, terutama jika dipasarkan secara kreatif dan disesuaikan dengan tren kebutuhan rumah tangga atau dekorasi.
Proses Pemberdayaan dengan Metode ABCD
Tahap pertama adalah pemetaan aset (asset mapping). Tim KKN bersama tokoh masyarakat dan pengrajin senior melakukan diskusi untuk mengidentifikasi keterampilan, fasilitas, dan peluang yang dimiliki desa.
Tahap kedua adalah pelibatan generasi muda. Diadakan pelatihan pembuatan gerabah yang tidak hanya mengajarkan teknik dasar, tetapi juga memberikan ruang kreativitas, seperti membuat desain ulekan dengan motif unik atau memproduksi bentuk lain seperti vas bunga, pot tanaman, atau hiasan dinding.
Tahap ketiga adalah pemasaran kreatif. Pemuda diajak memanfaatkan media sosial dan platform jual beli online untuk memasarkan produk. Dokumentasi proses pembuatan gerabah yang estetis juga digunakan sebagai konten promosi untuk menarik minat pembeli dan memperkuat nilai cerita di balik produk.
Tahap keempat adalah penguatan jaringan pemasaran. Tim KKN membantu menjalin kerja sama dengan toko oleh-oleh, pasar tradisional, dan kafe/restoran yang mau menggunakan gerabah sebagai perlengkapan dapur atau dekorasi.
Hasil dan Dampak
Program ini menghasilkan beberapa perubahan positif, di antaranya:
Meningkatnya minat sebagian remaja untuk belajar membuat gerabah.
Munculnya produk gerabah dengan desain lebih bervariasi yang menarik pasar modern.
Mulainya pemasaran produk melalui media sosial sehingga menjangkau pembeli dari luar daerah.
Tumbuhnya kesadaran masyarakat bahwa gerabah bukan sekadar tradisi, tetapi juga aset ekonomi yang dapat memberikan penghasilan.
Penutup
Pemberdayaan remaja berbasis aset lokal melalui metode ABCD di Dusun Masaran Lepek membuktikan bahwa warisan budaya dapat menjadi sumber kekuatan ekonomi jika dikelola dengan baik. Pelibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan, sehingga keterampilan membuat gerabah tidak hanya bertahan sebagai cerita masa lalu, tetapi juga berkembang menjadi komoditas bernilai tinggi di pasar modern. Dengan inovasi desain dan pemasaran yang tepat, gerabah Masaran Lepek memiliki peluang besar untuk bersaing dan tetap hidup di tengah arus globalisasi.
Komentar
Posting Komentar