MATERI 2: Kedudukan, Fungsi dan urgensi Qashash al-Quran
A. Qashash al-Quran sebagai unsur ulumul Quran
1. Qashash Al-Qur'an merupakan muatan dari ilmu Ulumul Qur’an seperti hal nya Amtsal. Keduanya lebih mudah dipahami daripada cerita yang bersifat deskriptif
2. Dan qashash dan amtsal, hal-hal abstrak dapat dikongkretisasi (dimaknai/ ditafsirkan). Menurut Khalafullah, penyandingan amtsal dengan Qashash al-Quran lebih mudah diterima contoh pada QS. Tahrim: 10 & 11 sebagai berikut:
ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱمۡرَأَتَ نُوحٍ وَٱمۡرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَيۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَٰلِحَيۡنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمۡ يُغۡنِيَا عَنۡهُمَا مِنَ ٱللَّهِ شَيۡئًا وَقِيلَ ٱدۡخُلَا ٱلنَّارَ مَعَ ٱلدَّٰخِلِينَ
"Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh, dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), "Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).""
Adapun untuk QS. Tahrim: 11 sebagai berikut:
وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِي عِندَكَ بَيۡتًا فِي ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ
"Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir'aun, ketika dia berkata, "Ya Tuhanku, bangunkan lah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,".
B. Fungsi dan Urgensi Qashash Al-Quran
1. Di dalam al-Quran terdapat banyak kisah tetapi dengan karakter:
a. Tidak runut sehingga melelahkan (toilsome)
b. Terulang sehingga menjemukan (wearisome)
c. Tidak detail
d. Terpotong-potong
e. Campur-aduk sehingga membingungkan (confused jumble)
Hal ini diambil dari kaum orientalis. Maka dari situ, Al-Qur'an sesuai perkembangan zaman.
2. Urgensi Ilmu qashash al-Quran untuk mengungkap narasi kisah dan karakteristiknya. ilmu qashash al-Quran merupakan ilmu khusus yang dapat dikembangkan dengan sumbangan ilmu lain seperti hermeneutika, literary studies, dan ilmu narasi (naratologi).
3. Qashash Al-Qur'an tidak memuat cerita secara utuh karena lebih mementingkan pada penekanan pada aspek moralitas-religius (pesan moral). Maka dari itu Qashash Al-Qur'an lebih cocok untuk dijadikan bahan dalam strategi Dakwah. Maka dari itu, Al-Qur'an bukan lah buku sejarah atau cerita tetapi sebagai kitab petunjuk bagi umat manusia.
4. Qashash dalam al-Quran bukan tujuan tetapi medium/sarana untuk:
a. Mengkomunikasikan pesan-pesan pokok,
b. Memberikan ilustrasi untuk memberikan gambaran yang lebih nyata tentang suatu hal
c. Memotivasi
d. Menghibur
Seperti yang tertera pada Ayat-ayat di bawah imi
وَكُـلًّا نَّقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۚ وَجَآءَكَ فِي هَٰذِهِ ٱلۡحَقُّ وَمَوۡعِظَةٞ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ
"Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman."
(QS. Hud 11: Ayat 120)
نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ أَحۡسَنَ ٱلۡقَصَصِ بِمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ وَإِن كُنتَ مِن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ
"Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui."
(QS. Yusuf 12: Ayat 3)
لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَيۡءٍ وَهُدًى وَرَحۡمَةً لِّقَوۡمٍ يُؤۡمِنُونَ
"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Yusuf 12: Ayat 111)
* Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-apk.com
5. Hal pokok dalam taqṣīṣ (penceritaan) bukanlah faktualitas historisnya tetapi penekanannya pada maksud/tujuan (motif)nya (sebagaimana poin 6). Karena taqṣīṣ (penceritaan) dengan unsur faktualitas historical secara penuh adalah unsur dalam buku sejarah bukan kitab suci.
6. Itulah mengapa kisah-kisah dalam al-Quran tidak ketat faktualitas historisnya (dengan pengabaian waktu, tempat, tokoh). Al-Quran tidak berbohong tetapi tidak utuh/lengkap mengangkat unsur cerita. Bilapun ada unsur yang disebut dalam al-Quran, dipertanyakan oleh pihak lain dengan berdasarkan pada sumber tertentu (Perjanjian Lama /Perjanjian Baru, misal), fakta sejarah dari masa lalu tidak sungguh-sungguh dapat dipastikan sehingga lumrah terdapat varian-varian (versi-versi) dalam sejarah.
7. Pendekatan pembacaan kisah (dalam tradisi biblical):
a. Literal (tekstualis): pembacaan letterleijk/harfiyah
b. Alegoris (metaforis/majaz): pembacaan makna tersirat/takwiliyah.
Adapun Alegoris metaforis ini dapat berbentuk:
b. 1. Tropologis-figuratif (ideal moral), yaitu bertujuan untuk mengungkap aspek etik dari suatu cerita
b. 2. Analogis (spiritual sufistik-mistik), yaitu bertujuan untuk mengungkap nilai spiritual mistisisme dari suatu cerita
8. Faktor yang mendorong pembacaan alegoris (metaforis/majaz) ini adalah:
a. Makna literer kisah tidak mengatakan apa yang benar mengenai Tuhan.
b. Narasi kisah bertentangan dengan teks yang lain.
c. Narasi kisah menampilkan kata-kata yang bermakna ganda.
d. Narasi kisah memuat pengulangan.
e. Narasi kisah memuat penggambaran yang beragam.
f. Muncul kata-kata yang sinonim pada kisah yang berbeda-beda.
g. Narasi kisah memuat permainan kata.
h. Narasi kisah memuat simbol-simbol.
9. Muḥammad Aḥmad Khalafullah mengklasifikasi tiga macam kisah dalam Al-Qur’an:
a. Kisah historis (al-qiṣṣah al-tārikhīyah), yaitu kisah yang menceritakan tokoh-tokoh sejarah tertentu seperti para nabi dan rasul dan beberapa kisah yang diyakini orang-orang terdahulu sebagai realitas sejarah.
b. Kisah perumpamaan (al-qiṣṣah al-tamthilīyah), yaitu kisah-kisah yang menurut orang-orang terdahulu, peristiwanya dimaksudkan untuk menerangkan dan menjelaskan suatu hal atau nilai-nilai.
c. Kisah mitis atau legenda (al-qiṣṣah al-usṭūrīyah), yaitu kisah yang diambil dari mitos-mitos yang dikenal dan berlaku dalam sebuah komunitas sosial. Misal fabel (kisah hewan) seperti dalam Q.S al-Naml 27:18-19
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوۡاْ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمۡلِ قَالَتۡ نَمۡلَةٞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمۡلُ ٱدۡخُلُواْ مَسَٰكِنَكُمۡ لَا يَحۡطِمَنَّكُمۡ سُلَيۡمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ
"Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, "Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.""
(QS. An-Naml 27: Ayat 18)
Dan ayat selanjutnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوۡلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحًا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ
"Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, "Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.""
(QS. An-Naml 27: Ayat 19)
Dari hal ini gelar Doktor dari Khalafullah dicabut.

Komentar
Posting Komentar