Teguran Allah Kepada Nabi Muhammad Terhadap Orang-orang Munafik

 


A. Tema

Teguran kepada Nabi terkait Orang Munafik


B. Penokohan 

1. Subjek: Nabi Muhammad 

2. Objek: Orang-orang munafik yang tidak ikut berperang 

3. Pengirim: Allah (Teguran kepada Nabi karena mengizinkan orang-orang munafik tidak ikut berperang)

4. Penerima: Nabi Muhammad dan orang munafik

5. Pembantu: Malaikat Jibril (mengantarkan wahyu kepada Nabi Muhammad)

6. Penentang: Orang-orang munafik (beralasan tidak ikut berperang)


C. Alur 

1. Kedustaan orang munafik 

لَوْ كَا نَ عَرَضًا قَرِيْبًا وَّسَفَرًا قَا صِدًا لَّا تَّبَعُوْكَ وَلٰـكِنْۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ ۗ وَسَيَحْلِفُوْنَ بِا للّٰهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَـرَجْنَا مَعَكُمْ ۚ يُهْلِكُوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۚ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّهُمْ لَـكٰذِبُوْنَ

"Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, "Jikalau kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu." Mereka membinasakan diri sendiri dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar orang-orang yang berdusta."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 42)


وَاِ ذَاۤ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ اَنْ اٰمِنُوْا بِا للّٰهِ وَجَاهِدُوْا مَعَ رَسُوْلِهِ اسْتَـأْذَنَكَ اُولُوا الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَا لُوْا ذَرْنَا نَكُنْ مَّعَ الْقٰعِدِيْنَ

"Dan apabila diturunkan suatu surah (yang memerintahkan kepada orang-orang munafik), "Berimanlah kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya," niscaya orang-orang yang kaya dan berpengaruh di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata, "Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk (tinggal di rumah).""

(QS. At-Taubah 9: Ayat 86)

2. Teguran Allah kepada Nabi

عَفَا اللّٰهُ عَنْكَ ۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْـكٰذِبِيْنَ

"Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?"

(QS. At-Taubah 9: Ayat 43)


لَا يَسْتَـأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَا للّٰهُ عَلِيْمٌ بِۢا لْمُتَّقِيْنَ

"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin (tidak ikut) kepadamu untuk berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 44)


اِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَا رْتَا بَتْ قُلُوْبُهُمْ فَهُمْ فِيْ رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُوْنَ

"Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu (Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 45)

3. Ketidaksukaan Allah kepada orang-orang munafik 


وَلَوْ اَرَا دُوْا الْخُـرُوْجَ لَاَ عَدُّوْا لَهٗ عُدَّةً وَّلٰـكِنْ كَرِهَ اللّٰهُ انْبِۢعَا ثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيْلَ اقْعُدُوْا مَعَ الْقٰعِدِيْنَ

"Dan jika mereka mau berangkat, niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.""

(QS. At-Taubah 9: Ayat 46)


فَرِحَ الْمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلٰفَ رَسُوْلِ اللّٰهِ وَكَرِهُوْۤا اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَا لُوْا لَا تَنْفِرُوْا فِى الْحَـرِّ ۗ  قُلْ نَا رُ جَهَـنَّمَ اَشَدُّ حَرًّا ۗ لَوْ كَا نُوْا يَفْقَهُوْنَ

"Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang), merasa gembira dengan duduk-duduk diam sepeninggal Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata, "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah (Muhammad), "Api neraka Jahanam lebih panas," jika mereka mengetahui."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 81)


فَلْيَـضْحَكُوْا قَلِيْلًا وَّلْيَبْكُوْا كَثِيْرًا ۚ جَزَآءً بِۢمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Maka, biarkanlah mereka tertawa sedikit dan menangis yang banyak, sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka perbuat."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 82)


فَاِ نْ رَّجَعَكَ اللّٰهُ اِلٰى طَآئِفَةٍ مِّنْهُمْ فَا سْتَـأْذَنُوْكَ لِلْخُرُوْجِ فَقُلْ لَّنْ تَخْرُجُوْا مَعِيَ اَبَدًا وَّلَنْ تُقَا تِلُوْا مَعِيَ عَدُوًّا ۗ اِنَّكُمْ رَضِيْتُمْ بِا لْقُعُوْدِ اَوَّلَ مَرَّةٍ  ۗ فَا قْعُدُوْا مَعَ الْخٰلـِفِيْنَ

"Maka, jika Allah mengembalikanmu (Muhammad) kepada suatu golongan dari mereka (orang-orang munafik), kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, "Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi (berperang) sejak semula. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut (berperang).""

(QS. At-Taubah 9: Ayat 83)

4. Gambaran orang-orang munafik jika ikut berperang 

لَوْ خَرَجُوْا فِيْكُمْ مَّا زَا دُوْكُمْ اِلَّا خَبَا لًا وَّلَاَ وْضَعُوْا خِلٰلَـكُمْ يَـبْغُوْنَـكُمُ الْفِتْنَةَ ۚ وَفِيْكُمْ سَمّٰعُوْنَ لَهُمْ ۗ وَا للّٰهُ عَلِيْمٌ بِۢا لظّٰلِمِيْنَ

"Jika (mereka berangkat bersamamu), niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju ke depan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan (di barisanmu); sedang di antara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah mengetahui orang-orang yang zalim"

(QS. At-Taubah 9: Ayat 47)


 وَظَهَرَ اَمْرُ اللّٰهِ وَهُمْ كٰرِهُوْنَ

"Sungguh, sebelum itu mereka memang sudah berusaha membuat kekacauan dan mengatur berbagai macam tipu daya bagimu (memutarbalikkan persoalan), hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah urusan (agama) Allah, padahal mereka tidak menyukainya."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 48)


وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ ائْذَنْ لِّيْ وَلَا تَفْتِنِّيْ ۗ اَ لَا فِى الْفِتْنَةِ سَقَطُوْا ۗ وَاِ نَّ جَهَـنَّمَ لَمُحِيْطَةٌ بِۢا لْـكٰفِرِيْنَ

"Dan di antara mereka ada orang yang berkata, "Berilah aku izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau (Muhammad) menjadikan aku terjerumus ke dalam fitnah." Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, Jahanam meliputi orang-orang yang kafir."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 49)


فَرِحَ الْمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلٰفَ رَسُوْلِ اللّٰهِ وَكَرِهُوْۤا اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَا لُوْا لَا تَنْفِرُوْا فِى الْحَـرِّ ۗ  قُلْ نَا رُ جَهَـنَّمَ اَشَدُّ حَرًّا ۗ لَوْ كَا نُوْا يَفْقَهُوْنَ

"Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang), merasa gembira dengan duduk-duduk diam sepeninggal Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata, "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah (Muhammad), "Api neraka Jahanam lebih panas," jika mereka mengetahui."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 81)


5. Hukuman Allah bagi orang munafik


رَضُوْا بِاَ نْ يَّكُوْنُوْا مَعَ الْخَوَا لِفِ وَطُبِعَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُوْنَ

"Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah tertutup, sehingga mereka tidak memahami (kebahagiaan beriman dan berjihad)."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 87)


اِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَسْتَأْذِنُوْنَكَ وَهُمْ اَغْنِيَآءُ ۚ رَضُوْا بِاَ نْ يَّكُوْنُوْا مَعَ الْخَـوَا لِفِ ۙ وَطَبَعَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

"Sesungguhnya alasan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu (untuk tidak ikut berperang), padahal mereka orang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci hati mereka, sehingga mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka)."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 93)


يَعْتَذِرُوْنَ اِلَيْكُمْ اِذَا رَجَعْتُمْ اِلَيْهِمْ ۗ قُلْ لَّا تَعْتَذِرُوْا لَنْ نُّـؤْمِنَ لَـكُمْ قَدْ نَـبَّاَنَا اللّٰهُ مِنْ اَخْبَا رِكُمْ ۗ وَ سَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَـكُمْ وَرَسُوْلُهٗ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

"Mereka (orang-orang munafik yang tidak ikut berperang) akan mengemukakan alasannya kepadamu ketika kamu telah kembali kepada mereka. Katakanlah (Muhammad), "Janganlah kamu mengemukakan alasan; kami tidak percaya lagi kepadamu, sungguh, Allah telah memberitahukan kepada kami tentang beritamu. Dan Allah akan melihat pekerjaanmu, (demikian pula) Rasul-Nya, kemudian kamu dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.""

(QS. At-Taubah 9: Ayat 94)


سَيَحْلِفُوْنَ بِا للّٰهِ لَـكُمْ اِذَا انْقَلَبْتُمْ اِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوْا عَنْهُمْ ۗ فَاَ عْرِضُوْا عَنْهُمْ ۗ اِنَّهُمْ رِجْسٌ ۙ وَّمَأْوٰٮهُمْ جَهَـنَّمُ ۚ جَزَآءً بِۢمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah ketika kamu kembali kepada mereka agar kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu berjiwa kotor dan tempat mereka Neraka Jahanam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 95)


يَحْلِفُوْنَ لَـكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۚ فَاِ نْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَاِ نَّ اللّٰهَ لَا يَرْضٰى عَنِ الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ

"Mereka akan bersumpah kepadamu agar kamu bersedia menerima mereka. Tetapi sekalipun kamu menerima mereka, Allah tidak akan rida kepada orang-orang yang fasik."

(QS. At-Taubah 9: Ayat 96)


D. Latar: 

Tempat: Madinah 

Waktu: 9 Hijriyah/ 630 M

Suasana: Menjelang Perang Tabuk

E. Sudut Pandang 



Penjelasan:

Segitiga semantis adalah model relasi makna yang menggambarkan hubungan antara pengirim, subjek, objek, pembantu, dan penentang dalam suatu narasi. Berikut adalah segitiga semantis sesuai elemen yang disebutkan:


Segitiga Semantis: Teguran kepada Nabi terkait Orang Munafik

  1. Pengirim (Sender): Allah

    • Allah mengirim teguran atau wahyu sebagai bentuk pengarahan dan koreksi terhadap sikap Nabi terhadap orang-orang munafik.

  2. Subjek (Subject): Nabi Muhammad SAW

    • Nabi berperan sebagai pelaksana kehendak Allah dan penerima wahyu.

  3. Objek (Object): Orang-orang Munafik

    • Mereka adalah pihak yang menjadi fokus dari misi kenabian, yaitu memperbaiki atau memperingatkan mereka.

  4. Pembantu (Helper): Malaikat Jibril

    • Jibril sebagai penyampai wahyu yang memperkuat peran Nabi dalam melaksanakan misi kenabian.

  5. Penentang (Opponent): Orang-orang Munafik yang Tidak Ikut Berperang

    • Mereka menjadi penghambat karena sikap hipokrit dan ketidakterlibatan dalam perjuangan Islam.


Greimas menggunakan oposisi biner untuk menganalisis makna dalam
cerita. Dalam kisah Teguran kepada Nabi terkait Orang munafik, beberapa oposisi biner utama adalah:
- Ketaatan vs Pembangkangan → Nabi Muhammad (taat, menyampaikan teguran keapa orang munafik)

Kesempurnaan vs Kehinaan → Nabi Muhammad mendapatkan ampunan dari Allah, dan orang munafik mendapatkan murka dari Allah sehingga menyebabkan hati mereka terkunci, berjiwa kotor dan ditempatkan di Neraka Jahanam.

Ilmu vs Kebodohan → Nabi Muhammad mendapatkan ilmu dari Allah tentang kehinaan orang munafik, sementara orang-orang munafik tetap akan menolak berjihad meski mendapatkan pesan dari Allah karena kedustaannya.

Transformasi Naratif dalam Kisah Adam
Dalam teori Greimas, cerita mengikuti pola transformasi dari satu keadaan
ke keadaan lain.

Dalam kisah tersebut, pola ini bisa dijelaskan sebagai berikut:
1. Keadaan Awal → Nabi Muhammad tidak mengetahui tentang niat dibalik alasan orang-orang munafik tidak ikut berperang.
2. Gangguan → Orang-orang munafik beralasan tidak ikut perang karena terik panas dari panas matahari.
3. Konflik → Allah menegur Nabi Muhammad atas kelalaiannya tidak menanyakan lebih lanjut terhadap alasan orang-orang munafik tidak ikut berperang.
4. Akibat → Orang-orang munafik oleh dikunci hatinya, jiwanya menjadi kotor dan tempatnya di neraka Jahanam.
5. Penyelesaian → Nabi Muhammad mendapatkan ampunan dari Allah kecuali orang-orang munafik.
4. Dengan pendekatan Greimas, kita bisa melihat bahwa kisah Teguran Nabi Muhammad terhadap dustanya orang-orang munafik bukan
hanya kisah teguran saja, tetapi juga kisah gambaran orang-orang munafik jika ikut berperang dan hukuman bagi mereka. Model aktan membantu kita memahami hubungan antar tokoh, sementara segitigasemantis menyoroti makna mendalam dalam cerita.


 TAHAPAN

1. Teguran dan Ilmu
- Sintagmatik: Nabi Muhammad ditegur oleh Allah dan diberikan pengetahuan tentang bahayanya kedustaan dan kemunafikan.
- Paradigmatik: Kesalahan vs Pengetahuan

2. Kemuliaan dan Kehinaan
- Sintagmatik: Nabi Muhammad mendapatkan ampunan dari kesalahannya dan Orang-orang munafik pada saat itu terkunci hatinya dan tempatnya di Neraka Jahanam.
- Paradigmatik: Pengampunan vs Hukuman

3. Ketaatan dan Pembangkangan 
- Sintagmatik: Nabi Muhammad menyampaikan pesan dari Allah dan orang munafik tetap atas pendiriannya untuk enggan untuk berperang
- Paradigmatik: Kepercayaan vs Penghianatan


IBRAH

### 1. Sikap Orang Munafik Terhadap Jihad (ayat 42–48)**

* Orang-orang munafik tidak mau ikut berjihad bersama Nabi karena alasan duniawi yaitu panas dan pada saat itu banyak buah yang matang.
* Mereka memberikan alasan dilengkapi sumpah palsu untuk tidak ikut berperang.
* Allah menjelaskan bahwa jika peperangan itu di daerah terjangkau dan mudah bagi mereka, maka mereka akan ikut; tapi karena sulit dan jauh, mereka enggan.
* Mereka juga berusaha melemahkan semangat nabi, para sahabat bahkan umat muslim pada saat itu.

**Ajaran:** Allah maha mengetahui dan tidak ada penghalang untuk bersembunyi bahkan ucapan orang munafik yang diselimuti sumpah palsu.

---

### 2. **Pentingnya Ketaatan dan Keikhlasan (ayat 49–52)**

* Sebagian munafik meminta izin untuk tidak ikut perang, mengklaim ingin menghindari fitnah, godaan dari perempuan Romawi.
* Allah menyatakan mereka justru menjadi sumber fitnah serta sebagai racun bagi umat muslim.
* Kaum beriman diajarkan untuk ridha terhadap takdir, baik menang maupun gugur syahid.

**Ajaran:** Taat kepada perintah Allah harus didasari keikhlasan dan keteguhan iman, bukan kalkulasi untung-rugi duniawi.

4. Peringatan dan Ancaman bagi Munafik 

* Allah menjelaskan siapa saja yang berhak menerima zakat.
* Orang munafik dicela karena memperolok agama dan kaum beriman.
* Diberikan contoh umat terdahulu yang hancur karena kemunafikan.

**Ajaran:** Allah memperingatkan agar umat Islam tidak meniru perilaku umat terdahulu yang sombong dan mendustakan agama.

---

### 5. **Sifat dan Ciri-ciri Orang Munafik**

* Tidak tunduk kepada wahyu.
* Memiliki hati yang keras, suka mengolok-olok Nabi dan kaum muslimin.
* Dilarang oleh Allah untuk didoakan dan dishalatkan bila mereka mati.

**Ajaran:** Allah mengajarkan pentingnya ketegasan terhadap kemunafikan demi menjaga kemurnian akidah dan kekuatan umat.

---

### 6. **Penerimaan Taubat dan Golongan yang Diterima (ayat 85–96)**

* Masih ada harapan bagi yang benar-benar bertaubat.
* orang-orang yang memang tidak mampu untuk berjihad maka tidak ada dosa baginya.
* Orang-orang munafik berusaha membela diri dengan sumpah palsu.

**Ajaran:** Allah Maha Pengampun bagi yang sungguh-sungguh bertaubat, tapi mengetahui siapa yang hanya berpura-pura.

---


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI 2: Kedudukan, Fungsi dan urgensi Qashash al-Quran

Acara Pembukaan dan Penyerahan Mahasiswa PPL 2025 serta Pembelajaran Qiro'ah Sab'ah di Yayasan Markaz Dirasat Qur’aniyah Desa Bajur Kabupaten Pamekasan

Makna, Sejarah, Dalil Beserta Implementasi Terkait Tradisi Malam Nisfu Sya'ban