Mampu Menjelaskan Takhrij Al-Hadith: Pengertian, Metode dan Literatur



A. Pengertian 

1. Secara bahasa

Takhrij ialah ijtima' amrayn mutaḍādayn fi shay' wāhid (berkumpulnya dua masalah yang saling bertolak belakang dalam satu perkara). Kata takhrīj terdapat dalam kamus al-muhīt yang disebutkan dalam beberapa arti kata dan perubahannya:¹

- wa 'ām fīh takhrīj (subur atau menarik)

- wa arḍ mukharrajah (tanaman yang terpisah-pisah)

- wa kharraja al-lawh takhrījan (menulis sebagian dan meninggalkan yang lain)

- al-kharaja (dua warna hitam dan putih)

Kata takhrīj dapat diartikan juga pada kata di bawah ini:

- al-istinbāṭ: mengeluarkan 

- at-tadrīb: meneliti 

- al-tawjīh: menerangkan 

2. Secara istilah

Adapun takhrīj menurut beberapa para ahli hadis telah dipaparkan sebagaimana di bawah ini:²

a. Sinonim dari kata takhrīj ialah al-ikhrāj yang bermakna menjelaskan hadis kepada orang lain dengan menyebutkan mukharrijnya. Contoh dalam kitab shahih bukhari yang merupakan kumpulan hadis, maka bukhari lah sebagai mukharrijnya

b. Menurut al-Sakhawi dalam kitabnya yang berjudul Fath al-Mugit, ia mengatakan bahwa takhrīj ialah suatu periwayatan dari seorang pakar hadis terhadap beberapa hadis dalam kitab juz', guru, kitab-kitab dan sesamanya, membicarakan dan menisbatkan pada orang yang meriwayatkan.

c. Al-Dilalat, bermakna kita menunjukkan kitab sumber-sumber hadis dan menisbatkan padanya dengan cara menyebutkan para periwayat nya, yaitu para pengarang kitab sumber-sumber hadis tersebut. 

Jadi, dari penjelasan di atas maka takhrīj ialah sebuah proses dimana kita membicarakan suatu hadis kepada orang lain dengan menyebutkan sanad dan matannya serta orang yang meriwayatkan hadis tersebut seperti para pengarang kitab-kitab sumber hadis seperti Bukhari, muslim dan lain sebagainya.

Fn:

1. Mahmud Al-Tahhan, _Metode Takhrīj Al-Hadīth dan Penelitian Sanad Hadis_, ed. M. Ridwan Nasir et al. (Surabaya: Imtiyaz, 2015), 1-4.

2. Ibid.


B. Metode Takhrīj Hadis 

Adapun untuk metode dari Takhrīj ini terbagi menjadi 5 macam metode:

1. Metode menggunakan nama sahabat periwayat hadis

2. Metode menggunakan kata pertama matan hadis

3. Metode menggunakan kata dari bagian matan hadis

4. Metode menggunakan tema hadis

5. Metode menggunakan kondisi tertentu bagi sanad dan matan hadis

Adapun penjelasan terkait penggunaannya sebagai berikut:

1. Metode menggunakan nama sahabat periwayat hadis

Metode ini bisa digunakan jika nama sahabat terdapat pada matan hadis.¹ Contoh yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebagai berikut:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

dari Abu Hurairah, Abdur Rahman bin Shakhr berkata bahwa Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh-tubuh kalian dan tidak pula kepada bentuk rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati kalian." (HR Muslim).²

Adapun penerapan metode ini tedapat di  kitab-kitab sebagai berikut:³

a. Kitab Musnad 

Kitab Musnad ialah kitab hadis yang dirancang dengan disusun berdasarkan nama sahabat. Seperti kitab musnad Ibn Hambal, kitab musnad Asad Ibn Musa Al-Umawi dan lain sebagainya

b. Kitab Mu'jam

Kitab Mu'jam ialah kitab-kitab yang disusun berdasarkan musnad-musnad para sahabat, guru-guru, negara-negara dan lain-lain. Seperti Al-Mu'jam Al-Kabir, Al-Mu'jam Al-Sagir dan lain sebagainya.

c. Kitab Aṭraf. 

Kitab Aṭraf ialah disusun berdasarkan musnad-musnad sahabat sesuai dengan urutan huruf hija 'iyyat. Seperti Atraf Al-Şahihayn karya Abu Mas'ud Ibrahim ibn Muhammad Al-Dimashqi, Atraf Al-Şahihayn karya Abu Muhammad Khalaf ibn Muhammad Al-Wasiți, Tuhfat al-Ashraf Fi Ma'rifat al-Atraf, tentang atraf kitab hadis enam, karya Al-Hafiz Abu al-Hajjaj Yusuf "Abd al-Rahman Al-Mizi dan lain sebagainya.


2. Metode menggunakan kata pertama matan hadis

Metode ini akan sangat efektif jika telah mengetahui kata pertama dari matan hadis. Jika terjadi sebaliknya maka tidak bergunalah metode ini.

Adapun penerapan dari metode ini terdapat di 3 kriteria kitab sebagai berikut:

a. Kitab hadis yang masyhur di kalangan masyarakat 

Hadis-hadis yang masyhur ialah segala yang disandarkan pada nabi baik berupa ucapan, perkataan, taqrir (diam/persetujuan) atau sifat beliau.⁴ Dikenal atau beredar dari kalangan masyarakat umat Islam.⁵

Adapun kitab-kitab yang masyhur yang dirancang tersusun berdasarkan huruf hijaiyyah, antara lain sebagai berikut:⁶

1). Al-Tadhkirat Fi al-Ahadith al-Mushtahirah, karya Badar al-Din ibn Muhammad ibn 'Abd Allah Al-Zarkashi (-974 H).

2). Al-Durar al-Muntathirah Fi al-Ahadith al-Mushtahirah, karya Jalal al-Din 'Abd al-Rahman al-Suyuti (-991 H).

3). Al-La'ali' al-Manthurah Fi al-Ahadith al-Mushtahirah, karya Ibn Hajar Al-Asqalani (-852 H).

4). Al-Maqaşid al-Hasanah Fi Bayan Kathir Min al-Ahadith al-Mushtahirah 'Ala al-Alsinah, karya Muhammad ibn Abd al-Rahman Al-Sakhawi (-902 H).

5). Tamyiz al-Tayyib Min al-Khabith Fi Ma Yadūru 'Ala Alsinat al-Nas Min al-Hadith, karya 'Abd al-Rahman ibn Ali ibn Al-Diba' Al-Shaybani (-944 H).

b. Kitab hadis yang disusun berdasarkan huruf hijaiyyah

Untuk hal ini tidak temukan kitab-kitab hadis yang dirancang disusun berdasarkan huruf hijaiyyah dari sanad pengarangnya sendiri. Karena hanya ulama muta'akhkhirīn yang memegang kitab dengan sistematika ini. Kitab yang diperuntukkan oleh mereka dihimpun dengan cara mengumpulkan mengumpulkan hadis-hadis dari kitab yang berbeda dengan membuang sanad-sanadnya dan disusun sesuai huruf hijaiyyah.⁷ diantaranya kitab-kitab tersebut sebagai berikut:⁸

- Al-Jāmi' al-Ṣagīr min Hadiṭ al-Basyir al-Nadhīr. Karya Jalal Al-Din 'Abd Al-Rahman Ibn Abu Bakar Al-Suyuti

Ia telah menghimpun hadis sekitar 10.000 hadis dan ketika bukunya telah dicetak ditemukan 10.031 hadis yang disusun berdasarkan huruf hijaiyyah dengan memperhatikan kata pertama dan kata setelah untuk memudahkan seseorang untuk menggunakannya dalam waktu singkat.

- Kitab Jāmi' al-Kabir karya Al-Suyuti

- Kitab al-Ziyādat 'Ala Kitāb al-Jami' al-Ṣagīr

- Kitab Al-Fath al-Kabir Fi Damm al-Ziyadah Ila al-Jami' al-Şaghir. 


c. Kitab-kitab kunci serta kamus pada kumpulan kitab-kitab hadis tertentu. 

Sebagian ulama muta'akhkhirīn telah menyusun kitab-kitab hadis ini berdasarkan huruf hijaiyyah untuk mempermudah dan memakan waktu yang singkat dalam proses pencarian hadis-hadis nya. Diantaranya kitab ini ialah:⁹

1) Kitab Miftah al-Sahihayn karya Al-Tawqadi.

2) Kitab Miftah al-Tartib Li Ahadith Tarikh al-Khatib, karya Sayyid Ahmad Al-Ghumari.

3) Kitab Al-Bughyat Fi Tartib Ahadith al-Hilyah, karya Sayyid 'Abd al-'Aziz Al-Ghumari.

4) Kitab Fahras Li Tartib Ahadith Şahih Muslim, karya Muhammad Fuad Abd al-Baqi.

5) Kitab Miftah Li Ahadith Muwatta Malik.

6) Kitab Farhas Li Tartib Ahadith Sunan Ibn Majah, karya Muhammad Fuad 'Abd al-Baqi


3. Metode menggunakan kata dari bagian hadis

Untuk mengaplikasikan metode ini maka diperlukan kitab seperti Kitab al-Mu'jam al-Mufahras Li Alfāz al-Hadiṭ al-Nabawi. Kitab ini ialah kitab yang memuat terkait kata-kata hadis dari sembilan kitab hadis yang masyhur, yaitu kitab hadis enam, Muwaṭṭā' Mālik, Musnad Ahmad, dan Musnad al-Dārimī. Kitab ini dibuat oleh sekelompok orientalis dan diterbitkan oleh orang diantara mereka yaitu Dr. Arnod Jon Wensick. Ia merupakan guru besar bahasa Arab di Universitas Leiden, Belanda. Dan buku ini juga telah dicetak di sana. Muhammad Fuad 'Abd Al-Baqi dan merupakan orang yang telah membantu menyukseskan dicetak nya buku ini. Selain Fuad ada juga lembaga-lembaga yang menaungi dari proyek ini yaitu lembaga britania, Denmark, Swedia, Belanda, UNESCO, Aleksander Pasa, dan lembaga penelitian ilmu pengetahuan murni Belanda. Kitab ini dicetak sebanyak 7 Jilid besar. Jilid pertama dicetak pada tahun 1936 M dan berakhir dicetak Jilid ketujuh pada tahun 1969 M. Maka proses pencetakan buku ini memakan waktu 33 tahun lamanya.


4. Metode menggunakan tema hadis

Metode ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang paham akan hadis dan orang yang berwawasan luas. Karena orang yang menggunakan metode ini ialah orang-orang dari akademisi untuk melakukan sebuah penelitian terkait hadis. Adapun kitab yang dipergunakan dalam metode ini ialah:

a. Kitab-kitab hadis yang mengupas segala persoalan agama dan termasyhur ialah al-Jawami', al-Mustakhrajat wa al-Mustadrakat 'ala al-Jawami', al-Majami', al-Zawa'id, dan Miftah Kunüz al-Sunnah.

b. Kitab hadis yang membahas sebagian besar dari persoalan agama yaitu al-Sunan, al-Muşannafat, al-Muwatta'at dan al-mustakhrajāt 'Ala al-Sunan.

c. Kitab hadis yang membahas persoalan tertentu diantaranya al-Ajzā, al-Targhib Wa al-Tarhib, al-Zuhd Wa al-Fada'il Wa al-Adab Wa al-Akhlaq, al-Ahkam, kitab-kitab takhrīj dan beberapa kitab syarah hadis beserta komentarnya (ta'liq) nya.

Adapun macam-macam kitab sesuai klasifikasinya sebagai berikut:

1. Kitab hadis yang membahas seluruh persoalan yang masyhur di masyarakat. Sebagai berikut:

a. al-jawami' contohnya al-Jami' al-Şahih karya Imam al-Bukhari, al-Jami' al-Şahih karya Imam Muslim, Jami' 'Abd al-Razzaq yang merupakan kitab jami' yang besar, Jami' al-Thawri, Jami' Ibn 'Uyaynah, Jami' Ma'mar dan Jami' al-Tirmidhi.

b. al-mustakhrajāt wa al-Mustadrakat 'ala al-Jawami

Kitab-kitab-kitab Al-mustakhrajāt ialah kitab-kitab hadis yang sudah ditakhrīj oleh si pengarang dengan menggunakan sanadnya sendiri bukan sanad dari pengarang kitabnya. Adapun dari salah satu yang termasuk dari kitab-kitab mustakhraj ini ialah 

1) Atas Kitab Şahih al-Bukhari adalah Mustakhraj al-Isma'ili (-371 H), Mustakhraj al-Ghitrifi (-377 H) dan Mustakhraj Ibn Abi Dhuhl (-378 H).

2) Atas Kitab Şahih Muslim adalah Mustakhraj Abi 'Uwanah Al-Isfirayini (-310 H), Mustakhraj al-Hiri (-311 H) dan Mustakhraj Abū Hamid al-Harawi (-355 H).

3) Atas Dua Kitab Şahih adalah Mustakhraj Abū Nu'aym al-Aşbihani (-430 H), Mustakhraj Ibn al-Akhram (-344 H) dan Mustakhraj Abi Bakr al-Barqanı (-425 H).

c. Kitab-Kitab al-Mustadrak atas Kitab-Kitab al-Jami' (al-Mustadrakat 'ala al-Jawami').

kata al-Mustadrak, berarti kitab yang menghimpun hadis-hadis yang tidak dimuat dalam kitab-kitab hadis tertentu sesuai de-ngan syaratnya, kemudian dimasukkan sebagai tambahan. 

1). Kitab Al-Mustadrak 'Ala al-Sahihayn karya Imam Abu 'Abd Allah al-Hakim.

d. Kitab-Kitab al-Jam’ (al-Majāmi’)

Kata Al-Majāmi’ adalah bentuk jamak dari kata Al-Majma’,yang berarti kitab yang menghimpun hadis-hadis dari berbagai kitab dan disusun sesuai dengan susunan kitab tersebut.

b) Kitab-kitab Al-Majāmi’ yang masyhur :

(1) Mashāriq al-Anwār al-Nabawiyyah Min Ṣihah al-Akhbār al-Musṭafawiyyah karya Al-Saghani Al-Hasan ibn Muhammad, sebagai himpunan hadis-hadis kitab Ṣahihayn.

(2) Al-Jam’ Bayn al-Sahihayn karya Abu ‘Abd Allah Muhamad ibn Abi Nasr Futuh Al-Humaydi (-488 H) sebagai himpunan hadis-hadis kitab Sahihayn..

(3) Al-Tajrid Li al-Sihhāh karya Abu al-Hasan Rozayn ibn Mu’awiyah Al-Andalusi (-535 H), sebagai himpunan hadis-hadis kitab enam.

(4) Jāmi’ al-Usūl Min Ahādith al-Rasūl karya Abu al-Sa’adah yang terkenal dengan Ibn al-Athir (-606 H),

sebagai himpunan hadis-hadis kitab enam.

(5) Jam’ aal-Faā’id Min Jāmi’ al-Usūl Wa Majma’ al-Zaaā’id karya Muhammad ibn Muhammad ibn Sulayman Al-Maghrabi (-1094) H). Kitab ini menghimpun 14 kitab hadis, yaitu dua kitab Sahih Sahihayn Muwattā’, Sunan empat, Musnad al-Dārimi, Musnad Ahmad, Musnad Abū Ya’lā, Musnad AAl-Bazār dantiga Mu’jam AAl-Tabrāni.

e. Kitab-Kitab Zawā’id (al-Zawā'id)

Zawā’id adalah kitab-kitab yang menghimpun hadis-hadis tambahan untuk sebagian kitab dari hadis-hadis yang terdapat dalam kitab lain, seperti Zawā’id Ibn Mājah ‘Alā Usūl al-Khamsah. Kitab ini menghimpun hadis-hadis riwayat Ibn Majah dalam Sunannya dan tidak diriwayatkan oleh lima Imam hadis. Tapi jika hadis itu sama-sama mereka riwayatkan, maka tidak termasuk dalam kitab Zawā’id.

Macam-macam Kitab al-Zawā’id

Di antara kitab-kitab al-Zawā’id adalah :

(1) Misbāh} al-Zujājah Fi Zawā’id Ibn Mājah, karya Abu al-‘Abbas Ahmad ibn Muhammad al-Busiri (-840 H). Kitab ini menghimpun hadis-hadis tambahan dalam Sunan Ibn Mājah atas 5 kitab hadis lainnya.44

(2) Fawā’id al-Muntaqi Li Zawā’id al-Bayhaqi, karya Al- Busiri juga. Kitab ini menghimpun hadis-hadis zziādat Sunan Al-Bayhaqi atas 6 kitab hadis.

(3) Ithāf al-Sādah al-Maharah al-Khayrah Bi Zawā’id al-Masānid al-‘Asharah, karya Al-Busiri juga. Kitab ini menghimpun hadis ziyādat sepuluh musnad, yaitu Musnad Abi Dāwud Al-TAlālisi, Musnad Al-Humaydi, Musnad Musaddad ibn Musarhad, Musnad Muhammad ibn Yahya al-‘Adni, Musnad Ishaq ibn Rahawayh, Musnad Abu Bakar ibn Abi Shaybah, Musnad Ahmad ibn Mani’, Musnad ‘Abd ibn Humayd, Musnad Al-Hārith ibn Muhammad ibn Abi Usamah dan Musnad Abu Ya’la Al-Mawsili atas 6 kitab hadis.

(4) Al-Matālib al-‘Āliyah Bi Zawā’id al-Masānid al-Thamāniyyah karya Ahmad ibn Ali ibn Hajar al-‘Asqalani (-852 H). Kitab ini menghimpun hadis-hadis ziyādat dari sepuluh musnad di atas, kecuali musnad Abi Ya’la Al-Mawsili dan Ishaq ibn Rahawayh  atas6 kitab hadis dan Musnad Ahmad. Namun beliau memasukkan zawā’id Abi Ya’la yang ditulis Al-Haythami dalam Majma’ al-Zawā’id sebagaimana menyebutkan Zawā’id Musnad Ishāq ibn Rahawayh.

(5) Majma’ al-Zawā’id Wa Manba’ al-Fawā’id, karya Al-Hāfiz} Abu Bakar Al-Haythami (-807 H), yang menghimpun zawā'id Musnad Ahmad, Musnad Abu Ya’la Al-Mawsili, Musnad Abu Bakar Al-Bazzar dan tiga Mu’jam al-Kabir, Mu’jam Al-Awsat, dan Mu’jam al-Saghir atas kitab hadis enam

f. Kitab Miftāh Kunūz al-Sunnah

Kitab Miftāh Kunūz al-Sunah ini disusun oleh orientalis Belanda, Dr. A.J. Wensinck (-1939 M) dengan bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Arab dengan beberapa perbaikan, perbandingan dan pemeriksaan teks. Penerbitan kali pertama dengan bahasa Arab dilakukan oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi pada tahun 1352 H/1933. Kitab ini berisikan tentang indek hadis yang disusun berdasarkan topik-topik fikih.

5. Metode Kelima, Menggunakan Kondisi tertentu bagi Sanad dan Matn Hadis.

Yang dimaksud dengan metode ini adalah mempelajari sedalam-dalamnya terhadap kondisi matn dan sanad hadis, kemudian mencari sumbernya pada kitab-kitab yang khusus membahas keadaan matn dan sanad hadis tersebut.

a. Kondisi Matn

1). Jika ada tanda-tanda kepalsuan dalam matan hadis, seperti lemahnya lafal atau pertentangan dengan Al-Qur'an, maka cara untuk mengetahui sumbernya adalah dengan melihat kitab-kitab hadis palsu (al-mawdū'āt). Kitab-kitab ini membantu mengidentifikasi hadis palsu, takhrij, bahasan, dan penjelasan tentang pelaku pemalsuan.

Terdapat dua kategori susunan kitab tersebut yaitu sesuai susunan huruf hijaiyyah dan bab-bab fikih

- Susunan Hijaiyyah: al-Mawdū'āt al-Kubrā karya Shaykh Ali al-Qari al-Harawi.

- Susunan bab fikih: Tanzih al-Shari’ah al-Marū'ah ‘An al-Ahādith al-Shani’ah al- Mawdū’ah, karya Abu al-Hasan Ali ibn Muhammad ibn ‘Iraq al-Kinani.

2). Jika matn termsuk hadis qudsi, maka sumber yang tepat untuk mencarinya adalah kitab-kitab yang khusus menghimpun hadsi qudsi, karena di dalamnya disebutkan hadis dan periwayatnya secara lengkap. Di antara kitab-kitab tentang hadis qudsi ialah :

- Mishkāt al-AIbār Fi mā Ruwiya ‘An Allāh Subhānahu Wa Ta’ālā Min al-Akhbār, karya Muhyi al-din Muhammad ibn Ali ibn ‘Arabi al-Khatimi al-Andalusi, yang menghimpun 101 hadis lengkap dengan sanadnya.

- Al-Ittihāfāt al-Saniyyah Bi al-Ahādith al-Qudsiyyah, karya Shaykh ‘Abd al-Ra’uf al-Munawi. Kitab ini berisi tentang 272 hadis tanpa dengan sanadnya, dan disusun berdasarkan urutan huruf hijā’iyyah.

b. Kondisi sanad

Jika dalam sanad hadis terdapat kesamaran, seperti :

1). Seseorang bapak meriwayatkan hadis dari anaknya, makasumber yang tepat untuk melakukan takhrij adalah kitab-kitab khusus tentang hadis-hadis riwayat bapak dari anaknya, seperti kitab Riwāyat al-Ābā’ ‘An al- Abnā’, karya Abu Bakar Ahmad ibn Ali al-Khatib aal-Baghdadi.

2). Sanadnya musalsal, maka dapat dipakai kitab-kitab tentanghadis musalsal, seperti kitab al-Musalsalāt alal-Kubrā karya al-Suyuti, yang menghimpun 85 hadis musalsal, dan kitab al-Manāhil al-Salsalah Fi al-Ahādith al-Musalsalah karya Mumammad ibn ‘Abd al-Baqi al-Ayyubi, yang menghimpun 212 hadis musalsal.

3). Sanadnya mursal, maka dapat dipakai kitab-kitab tentang hadis mursal, seperti kitab al-Marāsil karya Abu Dawud al-Sijistani, yang disusun berdasarkan bab-bab fikih, 69 dan kitab Al-Marāsil, karya Ibn Abi Hatim ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad al-Hanzali al-Razi.

4). Periwayatnya lemah, maka dapat dicari dalam kitab-kitab tentang periwayat-periwayat yang da’if (al-du’aafā’) dan yang masih dibicarakan kualitasnya (al-mutakallam fih) , seperti kitab Mizān al-I’ttiāl karya al-Dhahabi.

c. Kondisi matn dan sanad sekaligus

Dalam hal ini terdapat beberapa sifat dan keadaan seperti adanya ‘illat dan kesamaran, baik dalam matn atau sanad hadis. Hadis yang demikian itu dapat dicari pada kitab-kitab yang khusus membicarakan ‘illat dan kesamaran hadis, yang di antaranya :

1). ‘Ilal al-Hadith, karya Ibn Abi Hatim al-Razi, yang disusun berdasarkan bab-bab fikih. Pada tiap-tiap bab disebutkan hadis-hadis yang mengandung ‘illat dan diterangkan ‘illatnya secara baik.

2). Al-Asmā’ al-Mubhamah Fi Al-Anbā’ al-Muhkamah, karya al-Khatib al-Baghdadi. Dalam kitab ini dibahas hadis-hadis yang matnnya mengandung nama-nama atau hal-hal yang samar, kemudian dijelaskan dengan mengemukakan hadis riwayat lain yang menyebutkan nama atau hal yang samar tersebut secara jelas. 

Kitab ini disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah untuk nama-nama yang samar. Namun, menemukan nama atau hal yang samar itu sulit karena orang yang sudah mengetahuinya tidak perlu mencari, sedangkan orang yang belum mengetahuinya tidak tahu lokasinya.

3). Al-Mustafād Min Mubhamāt al-Matn Wa al-Isnād, karya Abu Zur’ah Ahmad Ahmad ibn ‘Abd al-Rahim al-‘Iraqi. Kitab ini disusun berdasarkan bab-bab fikih dan termasuk kitab yang paling berguna serta lengkap dalam membicarakan hal ini.

Fn:

1. Ibid, 33.

2. Syaikh Faishal Alu Mubarak, _Riyadhus Shalihin dan Penjelasannya,_ ed. Tim Penerjemah Ummul Quro (Jakarta Timur: Ummul Quro, 2023), 30.

3. Mahmud, _Metode Takhrīj_,33.

4. Muhammad Hambal Shafwan, _Studi Ilmu Hadis: Panduan Lengkap Memahami Ilmu Hadis Dirayah dan Riwayah, serta Dilengkapi Studi Sembilan Kitab Induk Hadis_(Malang: CV. Pustaka Learning Center, 2020), 10.

5. Mahmud, _Metode Takhrīj_, 53.

6. Ibid, 54.

7. Ibid, 58.

8. Ibid, 58-63.

9. Ibid, 63.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI 2: Kedudukan, Fungsi dan urgensi Qashash al-Quran

Acara Pembukaan dan Penyerahan Mahasiswa PPL 2025 serta Pembelajaran Qiro'ah Sab'ah di Yayasan Markaz Dirasat Qur’aniyah Desa Bajur Kabupaten Pamekasan

Makna, Sejarah, Dalil Beserta Implementasi Terkait Tradisi Malam Nisfu Sya'ban