MATERI 3: Etimologi-terminologi Qishshah
MATERI 3: Etimologi-terminologi Qishshah
Dr. Syukron Affani, M.S.I
1. Kisah atau cerita adalah narasi historis dan mitologis tertua yang hidup lestari dalam arus komunikasi secara auditif sebelum munculnya tulisan dan media visual yang lain.
2. Orang-orang Arab memiliki kisah-kisah berdasarkan kejadian riil tentang hal-hal tersebut dari masa lalu. Tentu saja ada juga cerita-cerita legenda mitologi (qaṣaṣ al-asāṭīr) sebagaimana terjadi pada semua bangsa sekalipun hal tersebut bukan kecenderungan orang Arab.
3. Legenda atau mitologi banyak terjadi pada masyarakat dengan kultur animisme pada kondisi geografi hutan-hutan dengan pepohonan yang besar. Kisah-kisah legenda semacam cara masyarakat merespon dan memahami lingkungan alamnya. Imajinasi mereka berkembang dalam batas-batas pengetahuan yang tidak dapat menjangkau fenomena natural sebagai sesuatu yang supernatural yang sarat dengan roh ataupun kekuatan gaib tertentu.
4. Kisah (qiṣṣah) secara lughah adalah seni ungkapan tutur (prosa sastra) tentang suatu realitas atau imajinasi atau campuran keduanya. Dalam konsep kontemporer, kisah adalah rekaman/catatan dari suatu peristiwa (baik banyak atau tunggal) pada suatu waktu yang membekas dalam jiwa sehingga dituturkan/dituliskan.
5. Bila peristiwa terjadi dalam masa yang panjang maka akan mengambil bentuk riwayat. Bila
peristiwa terjadi dalam masa yang sedang maka akan mengambil bentuk kisah. Bila peristiwa
terjadi dalam masa yang singkat maka akan mengambil bentuk cerita pendek.
6. Unsur-unsur cerita tertentu yang harus tersedia untuk keberhasilannya, yaitu peristiwa, karakter, waktu, tempat, dan narasi, Kemampuan melukiskan, menggambarkan, menekankan unsur-unsur tersebut dalam suatu narasi yang tepat berperan penting menarik pendengar cerita.
7. Ada dua jenis cerita:
a. Fiktif imajinatif (al-khoyyali): cerita legenda, kisah moral
b. Nyata (al-haqiqi): biografi, kisah sejarah, dan berita jurnalistik
c. Kombinasi fiksi dan realitas: Cerita sejarah di film yang diadaptasi dengan tokoh-tokoh
tertentu yang fiktif dan alur fiksi sebagai pelengkap dan bumbu penyedap cerita
8. Tujuan cerita yaitu
a. Mengungkap suatu realitas faktual
b. Memberikan gambaran yang nyata tentang suatu hal yang abstrak
c. Menyampaikan pesan tertentu
d. Menguatkan dan memotivasi
e. Menghibur
9. Unsur-unsur cerita memiliki beberapa unsur, yaitu sebagai berikut:
a. Gagasan: pesan yang ingin dikomunikasikan oleh penulis/narator kepada
pembaca/pendengar dan dapat dikatakan bahwa pelajaran dari cerita itulah yang
bermanfaat bagi pembaca.
b. Plot (setting) dan konstruksi: sekumpulan peristiwa yang terjadi di sekitar karakter tokoh
dan inti topik dengan saling berkaitan serta disusun menurut sebab-sebabnya. Plot
menunjukkan rangkaian peristiwa yang menarik perhatian dan menarik pembaca dalam
alur cerita
c. Peristiwa: kejadian-kejadian yang diatur, disusun, dan dinarasikan dalam cerita di suatu
waktu dan di suatu tempat
d. Narasi: ungkapan penjelasan dalam bentuk tutur atau tulisan tentang rangkaian cerita
e. Karakter: tokoh-tokoh yang mewarnai cerita
10. Bentuk tunggal qishshah dengan bentuk jamak: aqashish dan qashash. Padanannya adalah hadits, khobar, sya’n, atsar, naba’, tatabbu`, hikayah, riwayah
11. Ada yang membedakan antara hikayah (dongeng) dan kisah. Hikayat itu disampaikan secara lisan tanpa mengetahui penulisnya, sementara kisah itu ditulis dan penulisnya diketahui.
12. Konsep hikayat/dongeng adalah peristiwa dan dongeng yang telah ditransmisikan secara turun-temurun dari mulut ke mulut sejak zaman kuno dan merupakan bagian dari warisan yang didasarkan pada imajinasi populer. Hikayat sering diceritakan dengan imajinasi yang melampaui realitas (tampak melebih-lebihkan) terkait status beberapa tokoh sejarah. dan peristiwa sehingga menjadi dongeng yang tersebar luas di kalangan masyarakat.
13. Hikayat sebagai dongeng sering menjelma menjadi legenda mitologi yang tidak masuk akal yang dipercaya karena telah tertanam luas dalam pengetahuan masyarakat dan berlangsung turun-temurun
Ragam Qasas Al-Qur'an
14. Menurut `Abd al-Karim al-Khotib, tradisi sastra Arab adalah sastra berbasis kondisi riil. Imajinasi susastra Arab tidak melampaui fakta riil. Imajinasi susastra dikembangkan dalam bahasa berdasarkan data-fakta realitas. Demikianlah juga kisah-kisah dalam al-Quran---yang diturunkan mula-mula kepada masyarakat Arab, eksis sebagaimana tradisi susastra Arab tersebut: dasarnya realitas dan pengungkapannya melalui bahasa sastra yang dinamis.
15. Ragam kisah dalam al-Quran (dari sisi sumber) setidaknya ada 3:
a. Kisah tamthiliyah Contoh: Q.S al-Kahfi 18:32-36
b. Kisah waqi’iyah (kisah riil): kisah yang nyata terjadi di masa lampau yang terjadi pada individu-individu biasa Misal kisah Habil-Qabil Q.S Maidah 5:27-28
c. Kisah tarikhiyah (kisah historis): kisah yang nyata terjadi di masa lampau yang terjadi pada individu-individu besar dalam catatan sejarah

Komentar
Posting Komentar